Archive for the ‘Psikologi’ Category

wahhhh… ckckckckc.. gw berdecak kagum…
ternyata setelah beberapa bulan di tinggalin ni blog penuh sarang laba2 dan bau pesing..

wooiiiii… siapa yg kencing disini… !!!!!!!!!

yaakkk.. sarang laba2 di otak gw dengan suksesnya gw pindahkan ke blog  ini.. 3 bulan terakhir ini gw emang kehilangan mood gw buat ngetikin sepatah dua patah kata di blog ini, pkiran gw ntah kenapa lebih terfokus ke kerjaan.. pengaruh umur x y.. (sambil ngelus2 jenggot..)

well kemrin gw iseng2 site surfing en nemuin sebuah artikel lucu yg di tulis radith a.k.a kambing di detik.com..
mnurut gw ni artikel lucu, bodoh sekaligus cerdas.. heheh..
tp sorry sebelumnya postingan x ini lumayan pendek..
ternyata  teori tentang cinta khususnya kejombloan tidak hanya bisa disambung-sambungkan dengan teori ekonomi mikro (insentif, penawaran, permintaan), ternyata dengan ekonomi makro seperti unemployment juga bisa masuk. hal ini sepertinya muncul di benak penulis setelah termenung 3 hari 3 malam di dalam kakus sambil bakar menyan en nelen tiap lembar bukunya si Adam Smith..
Nah, monggo di baca, tipe-tipe jomblo berdasarkan teori ekonomi:

Jomblo Struktural
Jomblo struktural adalah jomblo karena kualitas kita (penawaran) dgn kemauan lawan jenis (permintaan) terhadap kita tidak seimbang. Jadi, Jomblo Struktural terjadi krn apa yang kita punya (fisik dan kepribadian) tidak sesuai dgn apa yg lawan jenis inginkan.

Hal ini bisa kita lihat kalau kita cowok yg jelek dan cuek. Sementara cewek yg kita incer mau co ganteng dan perhatian. Gak ktemu penawaran dgn permintaan. Jomblo deh.

Jomblo struktural juga bisa teradap dalam kasus cewek. Misalnya, ceweknya kulitnya item, sementara cowok-cowok yang dia taksir maunya yang putih dan behelan. Terjadi kembali missmatch antara penawaran dengan permintaan. Jomblo deh.

Jomblo struktural bisa dihindari dengan cara seperti ini: 1) meningkatkan kualitas kita, supaya bisa memenuhi “permintaan” lawan jenis, atau 2) mencari “pasar” lain. Berarti kita harus mencari cewek atau cowok yang mau dengan kualitas-kualitas (penawaran) kita. Dalam kata lain: menurunkan standar.

Jomblo Cyclical
Jomblo cyclical terjadi karena keinginan orang untuk pacaran menurun di masa-masa tertentu, jadinya banyak yang jomblo. Misalnya: menjelang UAN. Banyak orang jomblo berkepanjangan sewaktu menjelang UAN atau SPMB, karena fokus cewek dan cowok masih belajar. Tidak banyak bahkan yang sudah pacaran pun memutuskan pacarnya karena mereka ingin fokus belajar. Ini bisa menyebabkan kejombloan.

Tapi jangan khawatir, sesuai dgn namanya, cyclical, berarti ada siklusnya. Jadi, akan ada masanya orang-orang jadi banyak yg punya pacar lagi. Misalnya, masa liburan. Di masa ini, org pegen punya pacar, biar bisa liburan bareng. Atau banyak orang yang cinlok di tempat berlibur. Cara terbebas dari Jomblo Cyclical adalah dengan menunggu masa-masa orang ogah pacaran lewat. Setahu saya, tidak ada jalan lain selain ini.

Jomblo Friksional
Jomblo Friksional adalah kejombloan yang disebabkan oleh mereka yang baru putus dan ingin waktu sendiri dulu sebelum pacaran lagi. Jadi, Jomblo Friksional sifatnya sukarela mereka memilih ngejomblo dulu, setelah putus dan sebelom pacaran lagi.

Jomblo friksional biasanya terjadi pada cewek yang “gak mau pacaran dulu” karena abis disakitin sama pacarnya dulu, dan blm mau pacaran lagi. Caranya terbebas dari Jomblo Friksional? Move on, boys and girls. Find a better person.

Jadi, jomblo tipe apakah kamu?

(detik.com)

halo sodara2 sekalian.. y judul tersebut diatas merupakan terekan gw dlm hati,.. seminggu ini gw bkln sibuk berat dan stress berat, temen kantor gw yang kerjaan nya tu amit2 sibuknya bkln cuti en tugas2nya d limpahin ke gw, mau g’mau y gw harus nerima dengan lapang dada (Heeegghhhhfff… sambil nahan boker..), bayangin aja posisi dy itu account receivable & budgeting officer yang kerjaan nya ngeverifikasi en ngebuat tagihan en pembayaran yg seabreg2 bnyknya, di tambah lg kerjaan gw yg ribet en bwt pening.. 😥

en again i’ve got another SSDD (same shit different day..) in my office, rutinitas orang kantoran, saat ini aja gw lg ngadepin bertumpuk2 kertas.
y meja gw sangat2 rapi, perumpamaan seperti kapal pecah bahkan kurang bisa merepresentasi kan kehebohan yang terjadi di meja ini, gw aja smpe’ bingung tangan gw mau diletakan dmn..
saat ini benda2 yang ada di meja gw antara lain ; gelas buat orang sekampung (maklum klo agak sorean meja gw dinas jadi warung kopi jg..) gw klo udh ngampil gelas dari pantry suka lupa ngembaliin lg (red. maless..) jdnya y brtumpuk2 lahh tu gelas2 di meja gw, kaleng permen fox yang isinya : pensil, pulpen,boardmarker,cutter,lem,tipex,sedotan,sendok,kutu, kecoa, dan kolor (lahhh??!! dsini rupanya,gw cariin kmn2..) en tu kaleng cm seiprit jdnya melimpah laahhh kemana2 tu isinya berserakan d sktr tu kaleng yg seiprit.. maafkan aku kaleng permen fox, setelah ku nikmati isi mu,kini ku biarkan engkau di perkosa berjamaah oleh pulpen dan teman2nya.. T_T
jg ada telepon,kalender, speaker ( yang jarang bnget gw pake’, soalnya kalah saingan ma bos di meja depan yang tiap hari dengerin lagu sunda ato dangdut dengan volume yg kuatnya bs buat gendang telinga gw mudik pulang kampung, dan tak lupa bertumpuk2 kertas…yang klo di jual ke pedagang asongan mungkin gw bs pensiun dini en menghabiskan sisa hidup gw di pulau pribadi di kepulauan bahama.. Ooohh.. 😯

Dan saat ini gw stress berat..
toloooonnggg pak bos, jangan ditambahin lagi, jangan sampai ntar ada kasus dan headline di koran2 nasional yang bunyinya : Telah tewas seorang pemuda berwajah tidak tampan dan sangat jelek, diperkirakan dulunya pernah digilas kereta api dan gagal di operasi plastik, pasti hidupnya menderita, di muntahin orang tiap hari gara2 wajah jeleknya, ditemukan tewas dengan mulut penuh busa dan mencret2 dicelana, diduga karena kebanyakan ngemil kertas… +_+!!

itu saja keluh kesah saya hari ini, sekian dan terima kasih ..
wassalam..

O iy ni ada sedikit info tentang stress kerja, cekidot :

Stress adalah suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik (badan), atau lingkungan, dan situasi sosial, yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol.

Stres juga didefinisikan sebagai tanggapan atau proses internal atau eksternal yang mencapai tingkat ketegangan fisik dan psikologis sampai pada batas atau melebihi batas kemampuan subyek (Cooper, 1994).

Menurut Hager (1999), stres sangat bersifat individual dan pada dasarnya bersifat merusak bila tidak ada keseimbangan antara daya tahan mental individu dengan beban yang dirasakannya. Namun, berhadapan dengan suatu stressor (sumber stres) tidak selalu mengakibatkan gangguan secara psikologis maupun fisiologis. Terganggu atau tidaknya individu, tergantung pada persepsinya terhadap peristiwa yang dialaminya. Faktor kunci dari stres adalah persepsi seseorang dan penilaian terhadap situasi dan kemampuannya untuk menghadapi atau mengambil manfaat dari situasi yang dihadapi (Diana, 1991). Dengan kata lain, bahwa reaksi terhadap stres dipengaruhi oleh bagaimana pikiran dan tubuh individu mempersepsi suatu peristiwa.

Stressor yang sama dapat dipersepsi secara berbeda, yaitu dapat sebagai peristiwa yang positif dan tidak berbahaya, atau menjadi peristiwa yang berbahaya dan mengancam. Penilaian kognitif individu dalam hal ini nampaknya sangat menentukan apakah stressor itu dapat berakibat positif atau negatif. Penilaian kognitif tersebut sangat berpengaruh terhadap respon yang akan muncul (Selye, 1956).

Penilaian kognitif bersifat individual differences, maksudnya adalah berbeda pada masing-masing individu. Perbedaan ini disebabkan oleh banyak faktor. Penilaian kognitif itu, bisa mengubah cara pandang akan stres. Dimana stres diubah bentuk menjadi suatu cara pandang yang positif terhadap diri dalam menghadapi situasi yang stressful. Sehingga respon terhadap stressor bisa menghasilkan outcome yang lebih baik bagi individu.

Jenis-jenis Stres
Jenis stres dikategorikan menjadi dua, yaitu:

  1. Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.
  2. Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian.

Pengertian Stres Kerja
Definisi stres kerja dapat dinyatakan sebagai berikut :

“Work stress is an individual’s response to work related environmental stressors. Stress as the reaction of organism, which can be physiological, psychological, or behavioural reaction” (Selye,

Berdasarkan definisi di atas, stres kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Seperti yang telah diungkapkan di atas, lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja. Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja.

Sumber-sumber Stres Kerja
Banyak ahli mengemukakan mengenai penyebab stres kerja itu sendiri. Sebuah penelitian dengan sampel 300 karyawan swasta di Jakarta, menemukan bahwa penyebab stres kerja terdiri atas 4 (empat) hal utama, yakni:

  • Kondisi dan situasi pekerjaan
  • Pekerjaannya
  • Job requirement seperti status pekerjaan dan karir yang tidak jelas
  • Hubungan interpersonal

Penyebab stres (stressor) terdiri atas empat hal utama, yakni:

  1. Extra organizational stressors, yang terdiri dari perubahan sosial/teknologi, keluarga, relokasi, keadaan ekonomi dan keuangan, ras dan kelas, dan keadaan komunitas/tempat tinggal.
  2. Organizational stressors, yang terdiri dari kebijakan organisasi, struktur organisasi, keadaan fisik dalam organisasi, dan proses yang terjadi dalam organisasi.
  3. Group stressors, yang terdiri dari kurangnya kebersamaan dalam grup, kurangnya dukungan sosial, serta adanya konflik intraindividu, interpersonal, dan intergrup.
  4. Individual stressors, yang terdiri dari terjadinya konflik dan ketidakjelasan peran, serta disposisi individu seperti pola kepribadian Tipe A, kontrol personal, learned helplessness, self-efficacy, dan daya tahan psikologis.

Penyebab stres dalam pekerjaan terbagi menjadi dua, yakni:

  • Group stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari situasi maupun keadaan di dalam perusahaan, misalnya kurangnya kerjasama antara karyawan, konflik antara individu dalam suatu kelompok, maupun kurangnya dukungan sosial dari sesama karyawan di dalam perusahaan.
  • Individual stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari dalam diri individu, misalnya tipe kepribadian seseorang, kontrol personal dan tingkat kepasrahan seseorang, persepsi terhadap diri sendiri, tingkat ketabahan dalam menghadapi konflik peran serta ketidakjelasan peran.

Dampak  Stres  Kerja
Pada umumnya stres kerja lebih banyak merugikan diri karyawan maupun perusahaan. Pada diri karyawan, konsekuensi tersebut dapat berupa menurunnya gairah kerja, kecemasan yang tinggi, frustrasi dan sebagainya (Rice, 1999). Konsekuensi pada karyawan ini tidak hanya berhubungan dengan aktivitas kerja saja, tetapi dapat meluas ke aktivitas lain di luar pekerjaan. Seperti tidak dapat tidur dengan tenang, selera makan berkurang, kurang mampu berkonsentrasi, dan sebagainya.

Ada empat konsekuensi yang dapat terjadi akibat stres kerja yang dialami oleh individu, yaitu terganggunya kesehatan fisik, kesehatan psikologis, performance, serta mempengaruhi individu dalam pengambilan keputusan.

Penelitian yang dilakukan  di Jakarta dengan menggunakan 76 sampel manager dan mandor di perusahaan swasta  menunjukkan bahwa efek stres yang mereka rasakan ada dua. Dua hal tersebut adalah:

  • Efek pada fisiologis mereka, seperti: jantung berdegup kencang, denyut jantung meningkat, bibir kering, berkeringat, mual.
  • Efek pada psikologis mereka, dimana mereka merasa tegang, cemas, tidak bisa berkonsentrasi, ingin pergi ke kamar mandi, ingin meninggalkan situasi stres.

Bagi perusahaan, konsekuensi yang timbul dan bersifat tidak langsung adalah meningkatnya tingkat absensi, menurunnya tingkat produktivitas, dan secara psikologis dapat menurunkan komitmen organisasi, memicu perasaan teralienasi, hingga turnover

Terry Beehr dan John Newman (dalam Rice, 1999) mengkaji ulang beberapa kasus stres pekerjaan dan menyimpulkan tiga gejala dari stres pada individu, yaitu:

1. Gejala psikologis

Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis yang sering ditemui pada hasil penelitian mengenai stres pekerjaan :

  • Kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung
  • Perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian)
  • Sensitif dan hyperreactivity
  • Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi
  • Komunikasi yang tidak efektif
  • Perasaan terkucil dan terasing
  • Kebosanan dan ketidakpuasan kerja
  • Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi
  • Kehilangan spontanitas dan kreativitas
  • Menurunnya rasa percaya diri

2. Gejala fisiologis

Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja adalah:

  • Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit kardiovaskular
  • Meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh: adrenalin dan noradrenalin)
  • Gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung)
  • Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan
  • Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis (chronic fatigue syndrome)
  • Gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada
  • Gangguan pada kulit
  • Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot
  • Gangguan tidur
  • Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker

3. Gejala perilaku

Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah:

  • Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan
  • Menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas
  • Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan
  • Perilaku sabotase dalam pekerjaan
  • Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke obesitas
  • Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda depresi
  • Meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak hati-hati dan berjudi
  • Meningkatnya agresivitas, vandalisme, dan kriminalitas
  • Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman
  • Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. (rumahbelajarpsikologi.com)

Ada 2 tipe manusia d dunia ini, yang ingin menjadi Astronom dan yang ingin menjadi Astronot.. ( Dr. Alant Grant, jurassic park 3, 2001).. Hhmm.. klo gw tipe apa y??!! kyknya sich tipe anak nerd yang suka nonton astronom ceramah tentang solar wave en ngeliat astronot jumpalitan d luar angkasa kyk ikan mati ngambang d sungai di discovery channel sambil ngemut richeese rools.. (gw terima klo lu2 smua ngatain gw “anjrriiittt.. aneh banget ni ank”, ya gw memang anak yang aneh.. T-T )

Menurut Dr. Grant seoarng anak manusia terbagi menjadi 2 golongan sifat, seoarang anak yang ingin menjadi astronom, dimana dy bisa mempelajari luar angkasa dari tempat yang aman dan dapat menggunakan pikiran dan imajinasi nya, serta me-reka2 seperti seperti apa luar angkasa, kapan, mengapa, dan bagaimana ruang angkasa itu, sehingga dy tidak memiliki batasan dalam menyukai sesuatu, dimana kebebasan/ keadaan tanpa batasan itu sendiri menjadi kepuasan tersendiri bagi nya.

sedang anak yang lain adalah anak yang ingin menjadi astronot, dimana dy bisa menjelajahi lngsung luar angkasa , melihat, menyentuh dan merasakan, serta mempelajari langsung, namun dengan keterbatasa2n tertntu. tp  perasaan dpt merasakan langsung tersebut menjadi kepuasan bagi nya..

so which one are you??!!

well, berikut ini ada beberapa tipe manusia, yg pertama tipe manusia berdasarkan caranya menjalani hidup (source ; id.shvoong.com) :

  • Tipe Quitters, Dia orang yang tergesa-gesa, ingin cepet sampai, gampang menyerah, mudah bertekuk lutut, senang patah arang dan tak berani mengambil resiko. Bila ditawarkan kepadanya sebuah tantangan, ia mundur teratur mencari langkah seribu. Orang semacam ini karena didominas oleh pikiran-pikiran negative,su’uzhon thinking, kalah sblum bertanding, dan memilih parkir sebelum naik ring. Memilih aman daripada menghadang resiko. Tak punya nyali untuk menatap positip hidup ini.
  • Tipe Campers, Mereka adalah orang yang senang mendaki pada ketinggian tertentu lalu mengakhiri pendakian dan memilih berhenti, beristirahat serta mendirikan tenda di tempat yang datar. Menikmati kesuksesannya, puas dengan yang diperolehnya, mengambil jalan selamat, dan tak tertantang untuk mengambil peluang dan resiko yang lebih besar. Maisih mendingan memang, tapi tentu bukan itu pilihan pahlawan sejati.
  • Tipe Climbers, Inilah para pendaki abadi. Para pahlawan hakiki. Orang pejuang yang siap mengambil apapun resiko yang ditemui. Baginya hidup adalah sebuah arena mengubah hambatan menjadi kesuksesan, mengubah kesulitan menjadi kemungkinan-kemungkinan, mengambil resiko dengan sepenuh konsekuensi dan keberanian. Inilah yang mesti para pembaca budiman selalu miliki. Tidak lemah,tidak putus asa, tidak gampang menyerah untuk hidup yang menyejarah

Kemudian tipe2 manusia dalam menghadapi tekanan hidup (source; enlighment.multiply.com) :

  • Tipe pertama, tipe kayu rapuh. Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada saat kesulitan terjadi.
  • Tipe lempeng besi. Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut.
  • Tipe kapas. Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi. Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi.
  • Tipe manusia bola pingpong. Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya.
well, g’tau sejak kapan tapi sekarang gw baru nyadar, ternyata banyak jg temen yg curhat sama gw.. g’tau dech apa alasan mereka sehingga dengan yakin dan  percaya  nyeritain rahasia  pribadi mereka..

mungkin kebanyakan ngemut bohlam x y, atau mungkin gara2 kbnykan joging smbil nungging dengan kepala d bawah smpe’2 tu otak jd kram en kpikiran bwt curhat ma gw..  (salah seorang tmn gw  prnh tu nyoba joging smbil nungging keliling kompleks rumahnya, en hasilnya beliau berhasil ngeluarin makanan yg dy makan malam sebelumnya dengn sukses dari lobang idung…)

En yg pling ngebuat heran, biasanya tu topik2 yg d jadiin objek curhatan bukan bidang2 yg gw kuasain, kyk misalnya ada tmn curhat masalah hubungan nya ma pacarnya,trus dy nanya gmn solusi nya supaya hubungan nya ttp awet, en ada jg temen yg lg suka ma seorang cew en pngn ngedapetin tu cew..

padahal gw sndiri pd SAAT ITU (alhamdulillah SAAT INI ada cew yg katarakan nyangka gw mirip vino bastian en mau nerima  en segala kekurangan gw yg tnpa kelebihan ini sediktpun..)  BELUM PERNAH ngedeketin cew sama sekali apalagi pcrn.. (FYI : umur gw wktu kjadian dah hmpir 20 taon.. yaaa… silahkan tertawa.. hina lah saya sebagai cow hina yg tak sudi di lirik cew.. T-T )

en yang paling parah bahkan ada temen yg curhat tentang status ke-virginan gebetannya  en gimana pengalaman2 mesum nya, en ktnya lg dy g’pngn hal2 mesum itu smpai terjadi lg .. (Hhmmm.. sbnernya gw g’yakin ni ma kt2nya..) padahal waktu itu boro2 punya pengalaman gituan, d lirik cew aja gw ngacrit smbunyi d pojokan smbil kejang2 dengan mulut berbusa2 smbil nari tor-tor d lantai..

Hhhmmm.. gw jd mikir, knp sich mereka ko’ pada mau y nyeritain hal2 pribadi bhkan aib mereka ma gw.. apakah ni tmpng gw tmpang orang yg bs d percaya?!! ato emng gw seorang good listener en well adviser yang praktek jd konsultan en d promosiin  dr mulut ke mulut??!! ato wajah imut gw ini mirip sm kertas b bk diary?!! mmmm… jangan2 ni tampang gw mirip ma ember tempat muntah ato pispot  bwt numpahin segala uneg2 x y??!!

well terlepas dr itu, it feels so good to help others.. sneng jg rasanya kata2 yg kluar dr mulut ini (yg kt orng2 suara gw mirip vino bastian lg mencret..) bs brguna  en mmbntu meringankan mslh orng lain..
En Berikut ini sejumlah kiat praktis hasil googling ane yang layak dicermati untuk menjadi pendengar yang baik :
  • Memberikan perhatian penuh terhadap pembicara sebagai usaha yang sesungguhnya untuk memahami pokok-pokok penting dari pembicara. Termasuk memberikan perhatian penuh kepada mereka dan gunakan kata-kata pendorong seperti “Ya”, “Aha”, dan “Mmm”.
    Hal ini juga termasuk pernyataan secara non-verbal seperti mengangguk, tersenyum, dan bahasa tubuh lainnya.
  • Melihat ke arah pembicara untuk mengamati bahasa tubuh dan mengambil nuansa pembicaraan.
  • Mengajukan pertanyaan.
  • Memberikan waktu kepada pembicara untuk mengeluarkan pemikirannya dan membiarkan orang-orang menyelesaikan apa yang mereka katakan sebelum memberikan opini.
  • Sebaliknya, berikut tindakan yang sebaiknya dihindari ketika kita sedang mendengarkan pembicaraan orang lain atau mitra bicara kita :
    • Menyela
    • Terlalu cepat mengambil kesimpulan
    • Selalu (dan sering dengan tiba-tiba) mengubah pokok pembicaraan
    • Kurang memperhatikan bahasa tubuh
    • Tidak merespon apa yang orang lain telah katakan
    • Tidak mengajukan pertanyaan dan memberikan feedback