Posts Tagged ‘Sosialis’

Well its time to serious now, semalam gw nntn berita yg ngebahas tentang ideologi en paham kenegaraan dan ekonomi, en ntah knp gw terpaku aja nntn tu acara talkshow pdhl gw sbnrnya bkn orng yg terlalu sk ngbhs tentang hal2 yg bgituan.. d talkshow itu ngebahas mana yg lbih baik bagi negara, sosialis atau kapitalis..

habis nntn tu acara gw jd penasaran, jd nya gw pun iseng2 googling nyari2 info, en gw nemu beberapa artikel yg ngebahas tu sosialis ma kapitalisme en mn yg lbih baik..

Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama. Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas. Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.

Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Peleburan kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme lebih lunak daripada dua atau tiga abad yang lalu.

Kapitalisme adalah salah satu pola pandang manusia dalam segala kegiatan ekonominya. Perkembangannya tidak selalu bergerak ke arah positif seperti yang dibayangkan banyak orang, tetapi naik turun. Kritik keberadaan kapitalis sebagai suatu bentuk penindasan terhadap masyarakat kelas bawah adalah salah satu faktor yang menyebabkan aliran ini banyak dikritik. Akan tetapi, bukan hanya kritik saja yang mengancam kapitalisme, melainkan juga ideologi lain yang ingin melenyapkannya, seperti komunisme.

Pemerintah mendominasi bidang perdagangan selama berabad-abad namun kemudian malah memunculkan ketimpangan ekonomi. Para pemikir ini mulai beranggapan bahwa para borjuis, yang pada era sebelumnya mulai memegang peranan penting dalam ekonomi perdagangan yang didominasi negara atau lebih dikenal dengan merkantilisme, seharusnya mulai melakukan perdagangan dan produksi guna menunjang pola kehidupan masyarakat.

Adam Smith adalah tokoh ekonomi kapitalis klasik yang menyerang merkantilisme yang dianggapnya kurang mendukung ekonomi masyarakat. Ia menyerang para psiokrat yang menganggap tanah adalah sesuatu yang paling penting dalam pola produksi. Gerakan produksi haruslah bergerak sesuai konsep MCM (Modal-Comodity-Money, modal-komoditas-uang), yang menjadi suatu hal yang tidak akan berhenti karena uang akan beralih menjadi modal lagi dan akan berputar lagi bila diinvestasikan. Adam Smith memandang bahwa ada sebuah kekuatan tersembunyi yang akan mengatur pasar (invisible hand), maka pasar harus memiliki laissez-faire atau kebebasan dari intervensi pemerintah. Pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas dari semua pekerjaan yang dilakukan oleh rakyatnya.

Istilah sosialisme atau sosialis dapat mengacu ke beberapa hal yang berhubungan dengan ideologi atau kelompok ideologi, sistem ekonomi, dan negara. Istilah ini mulai digunakan sejak awal abad ke-19. Dalam bahasa inggris, istilah ini digunakan pertama kali untuk menyebut pengikut Robert Owen pada tahun 1827. Di Perancis, istilah ini mengacu pada para pengikut doktrin Saint-Simon pada tahun 1823 yang dipopulerkan oleh Pierre Lerouxdan J. Regnaud dalaml’Encyclopédie Nouvelle. Penggunaan istilah sosialisme sering digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda-beda oleh berbagai kelompok, tetapi hampir semua sepakat bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan masyarakat egalitarian yang dengan sistem ekonomi menurut mereka dapat melayani masyarakat banyak daripada hanya segelintir elite.

Menurut penganut Marxisme, terutama Friedreich Engels, model dan gagasan sosialis dapat dirunut hingga ke awal sejarah manusia dari sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Pada masa pencerahan abad ke-18, para pemikir dan penulis revolusioner seperti  Marquis de Condorcet,  Voltaire,  Rousseau, Diderot, Abbé de Mably, dan Morelly, mengekspresikan ketidakpuasan mereka atas berbagai lapisan masyarakat di Perancis.

Sistem ekonomi sosialisme sebenarnya cukup sederhana. Berpijak pada konsep Karl Marx tentang penghapusan kepimilikan hak pribadi, prinsip ekonomi sosialisme menekankan agar status kepemilikan swasta dihapuskan dalam beberapa komoditas penting dan menjadi kebutuhan masyarakat banyak, seperti air, listrik, bahan pangan, dan sebagainya.

Sejumlah pakar ekonomi dan sejarah telah mengemukakan beberapa masalah yang berkaitan dengan teori sosialisme. Diantaranya antara lain  Milton Friedman, Ayn Rand,  Ludwig Von Mises,  Friedrich Hayek, dan  Joshua Muravchik.

Kritik dan keberatan tentang sosialisme dapat dikelompokkan menjadi:

  • Insentif
  • Harga
  • Keuntungan dan kerugian
  • Hak milik pribadi

Dan berikut sebuah percakapan yg cukup unik en lucu menurut gw mengenai sosialisme en kapitalisme, en syngnya gw lupa sumbernya dr mn, soalnya ni artikel nemu nya dah lm… hehe..  sorry y..

Mengapa sosialis, mas?

Pada suatu ketika, seorang kawan berkunjung. Ketika melihat lukisan baru yang saya pajang di kamar kos, dia bertanya: Siapa itu?. Rosa Luxemburg, jawab saya. Rosa itu siapa?, tanyanya lagi. Sosialis Jerman, jawab saya datar. Kenapa sosialis?, tanyanya lagi sambil bolak-balik menatap lukisan itu dan saya yang sedang mengetik.

[Apanya yang kenapa?, pikir saya jengkel. Sosialis ya sosialis.]

Apanya yang kenapa?, tanya saya dengan nada biasa-biasa saja. Kenapa kamu pasang lukisan sosialis?, tanyanya. Karena aku pengen kapitalisme diganti sosialisme dan saya butuh penyemangat, jawab saya ringkas. Kenapa begitu?, tanyanya lagi sambil mengambil duduk di samping kanan saya. Karena kapitalisme tidak betul, jawab saya. Kok bisa? desaknya. Apa salahnya kapitalisme? Bukahkah ia begitu baik? Bikin barang-barang murah. Bikin semua orang bisa naek pesawat! [Dan juga kecelakaan pesawat, hutan gundul, limbah, polusi, kampung kumuh, gembel, dsb-dsb, pikir saya sambil coba menenangkan diri]

Saya coba cari cerita lain untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Tidak ada lagi pembicaraan selama beberapa saat.

Keheningan didobrak oleh pertanyaan barunya yang diutarakan dengan suara lemah-lembut. Kamu punya duit nggak?, tanyanya dengan wajah memelas. Punya beberapa lembar. Kenapa memangnya?, tanya saya. Aku perlu duit buat bayar kos. Kalo nggak dibayar minggu ini aku diusir, katanya pilu. Aku sudah malu pinjam-pinjam terus sama orang, desahnya.

Aku bukan bank. Bukan juga badan amil zakat, kata saya padanya. Tapi aku bisa bantu kamu sedikit.
Bagaimana kalo kamu buat makalah tentang administrasi publik. Itu kan bidangmu waktu kuliah S1 dulu. Kupinjamkan laptopku, kusiapkan buku-buku yang diperlukan, dan aku nanti kasih kamu 25 ribu rupiah per judul. Tenggatnya bulan depan. Bagaimana?

Boleh tuh. Tapi topiknya apa aja?, tanyanya tertarik. Kuberikan daftarnya. Ada 10. Artinya kamu akan dapat 250 ribu kelak, kataku merayunya. Wah, banyak bener, buat apa sih?, tanya dia. Pokoknya, kamu mau nggak? desakku. Mau-mau, katanya girang. Tapi kalo sudah jadi, buat apa makalah-makalah itu?, tanyanya penasaran. Aku akan kirim ke beberapa pejabat yang lagi sekolah pasca dan aku akan mendapatkan 250 ribu per judulnya. Wah, itu nggak adil! serunya. Masak aku yang bikin cuma dapet 25 ribu per judul sih!, serunya tambah kencang. Di mana letak ketidakadilannya?, tanyaku. Aku yang punya info pasarnya, kupinjamkan laptopku kepadamu, kusediakan buku-bukunya, kubebaskan kamu dari ngeprint, dsb, dsb… karena semua itulah aku punya hak atas 225 ribu per makalah!, seruku membalas serunya. Tapi… tapi aku yang mikir, aku nyusun makalah, dan aku pula yang mengetiknya…, katanya melambat. Silahkah kau mikir, kau susun, dan kau ketik pikiranmu di atas daun pisang, dan kau tidak akan dapat sepeserpun. Tanpa uang sepeser pun, kau akan jadi gelandangan, tau!

Seperti dalam film-film drama, jeda setelah tanda seru terakhir menghasilkan hening.
Itulah kapitalisme……..